Mengajar Anak Sendiri di Rumah

Setelah memiliki anak, saya memilih untuk menjadi stay at home mom atau lebih tepatnya working at home mom . Kenapa? karena memang dari awa...

Setelah memiliki anak, saya memilih untuk menjadi stay at home mom atau lebih tepatnya working at home mom. Kenapa? karena memang dari awal saya berkomitmen untuk mengasuh dan membesarkan anak saya dengan pengawasan penuh dari saya, sebut saja saya parno punya babysitter dan nggak rela anak saya diasuh oleh orang lain yang bukan keluarga.

Karena saya memiliki waktu yang fleksibel di rumah, sayapun punya banyak waktu untuk membaca, browsing ini itu soal pengasuhan anak dan lain sebagainya hingga saya memutuskan untuk mengajar anak saya sendiri di rumah.

Keinginan ini didukung dengan adanya kesempatan saya untuk belajar sistem pengajaran montessori di Sunshine Teachers Training yang buat saya, ini jadi highlight di tahun 2016, bisa baca di sini sedikit ceritanya. Cerita lengkap soal asal muasal saya mengambil diploma montessori ini di postingan lain ya, doain aja ada waktu dan inspirasi untuk menulis soal ini, maklum deh blogger amatir, nulisnya kadang setahun sekali hahaha.

Kebutuhan untuk mengajari anak saya sendiri di rumah juga datang karena karakter anak saya yang agak sulit cair sama orang baru, kemana-mana nempel emaknya dan punya energi lebih sehingga tiap harinya harus banget dikasih aktivitas. Sebelum usianya 2 tahun, yang saya lakukan adalah mengajaknya bermain sensori, messy play dan open ended play yang saya percayai mampu memberikan stimulasi pada perkembangan inderanya, mengasah imajinasi dan juga kreativitasnya.

Ketika usianya menginjak 2,5 tahun akhirnya saya mulai memasukkan pengajaran montessori melalui aparatus-aparatus montessori yang saya beli satu persatu dan dicicil dari jaman dia masih bayi. Kenapa montessori?Karena metode inilah yang saya rasa cocok bagi saya dan anak saya untuk belajar. Karena montessori selalu mempercayakan suksesnya pendidikan bukan hanya dari pengajarnya tapi faktor utama dari anaknya. Montessori percaya bahwa anak dapat mengajari diri mereka sendiri. Fungi pengajar hanya mengarahkan makanya disebutnya directress, montessori percaya bahwa sejatinya anak dapat belajar sendiri jika lingkungannya memadai dan tanpa paksaan.

Kecintaan saya akan pendidikan dan perkembangan anak ini juga yang menjodohkan saya dengan Productive Mamas, hasrat saya mengajar anak sendiri akhirnya meluap menjadi mengajar anak-anak bukan hanya anak sendiri. Kalau dengar kata "mengajar" sepertinya berat ya, tapi kadang dari proses "mengajar" ini justru saya yang "belajar". Dulu banget saya memandang sebelah mata sama guru PAUD dan TK, apa susahnya ngajarin art and craft, nyanyi-nyanyi, pakai baju atau sepatu sendiri, ngajarin sopan santun dll dsb, tapi justru sekarang saya baru tau bahwa masa emasnya perkembangan manusia dari segi karakter, sosial, kognitif dan fisik itu ya ketika dia masih dalam usia 0-6 tahun.

Ribet nggak sih ngajarin anak sendiri?Bukankah biasanya anak cenderung berperilaku "sulit" kalau diajari ibunya? Memang sih, ini juga yang saya alami, tapi saya percaya justru ibu itu adalah sekolah pertamanya anak-anak, sama siapa lagi orang pertama yang bisa kasih informasi tentang apapun dan dipercaya anak selain ibunya? Dan jika dengan ibunya, anak bisa jadi dirinya sendiri, jadi seharusnya apapun yang dicekokin ibunya nantinya juga lebih mudah masuknya sebelum ada pengaruh dari orang lain di luar sana.

Saya dulunya bersekolah dari TK dan tidak mengalami pra sekolah, jadi ini juga yang saya lakukan buat anak saya. Kalaupun nantinya dia sekolah ya mulainya dari TK entah TK A atau B, sesiapnya anak saya. Oleh karena itulah, sebelum masa sekolahnya dimulai, saya berkeputusan untuk mengajarinya sendiri di rumah, bermain sama-sama, mengajaknya ikutan playdate di mana-mana (ini sih juga karena saya sering bikin playdate sama teman-teman dekat atau bikin konsep playdate buat @productivemamas.event , silakan difollow IGnya ya dan yuk ikutan playdatenya!haha secuplik iklan gapapa ya!hihihi)

Jadi gimana memulai mengajari anak sendiri di rumah?Diawali dengan niat tulus ikhlas seraya berdoa pada Allah SWT, klise banget nggak tuh?haha tapi memang ini yang harus dilakukan dulu. Saya bikin poinnya deh biar jadi reminder juga buat saya.

  • Niat. Mengajari anak sendiri di rumah adalah sebuah petualangan seru dan seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya, kalau anaknya "pintar" kredit pertama yang diberikan pasti karena orang tuanya dalam hal ini seringkali ibunya, dan nggak ada deh orang tua yang nggak mau anaknya pintar dan berkembang dengan semestinya.
  • Sabar dan Ikhlas. Percayalah bahwa apa yang ditanam dengan baik, maka hasil panennya akan baik pula.
  • Banyak baca buku mengenai perkembangan anak. Ini penting! karena inti dari pembelajarannya adalah memberikan stimulasi pada anak untuk berkembang dengan baik sesuai usianya.
  • Buat jurnal kegiatan anak atau kurikulum pembelajaran sederhana. Ini adalah yang jadi acuan apa yang mau diajarin ke anak, sesuaikan dengan usia dan perkembangannya. 
  • Enjoy it!. Proses mengajar seringkali menjadi proses belajar bagi orang tua, nikmati momen yang ada, jangan terlalu berharap pada hasil, anak belajar sendiri sesuai kapasitasnya, ciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan jadikan kenangan indah kebersamaan orang tua dan anak.

Semoga bisa jadi inspirasi untuk memulai mengajari dan mendapatkan pengalaman belajar dari proses belajar-mengajar ini ya buibu. Saya bukan psikolog atau ahli perkembangan anak, saya masih banyak salahnya jadi ibu, saya cuma satu dari sekian banyak ibu-ibu yang percaya bahwa pendidikan itu dimulai dari rumah. Saya percaya bahwa anak-anak fitrahnya baik, tugas kita menjaga fitrahnya yang baik itu dan membuatnya jadi pribadi yang lebih baik lagi dan membuat banyak hal yang baik pula dan lewat mereka kita bisa bikin dunia lebih indah. InsyaAllah.


















Sebuah Tamparan di Awal Tahun

Awal tahun 2017, saya dan keluarga mendapatkan rejeki yang tidak ternilai harganya. Kami sekeluarga sakit. Batuk, flu, demam, pusing, you na...

Awal tahun 2017, saya dan keluarga mendapatkan rejeki yang tidak ternilai harganya. Kami sekeluarga sakit. Batuk, flu, demam, pusing, you name it. Terutama bagi keluarga kecil saya, di mana saya dan suami sakit secara bersamaan.

Awalnya, Andra anak saya belum ikut ketularan. Saya yang pertama kibar-kibar bendera putih hingga akhirnya menyerah untuk check in di rumah sakit dekat rumah.

Saya masuk rumah sakit di hari Kamis malam dengan perkiraan terkena demam berdarah, karena gejalanya mirip seperti DBD. Demam tinggi hingga 39,6 derajat celcius, pusing kepala, mual dan muntah-muntah, nyeri di seluruh badan hingga menggigil. Namun ternyata hasil cek darahnya negatif. Setelah dua hari menginap, saya akhirnya membaik, tapi ternyata batuk-batuknya masih menyisakan sesak (sejak awal rawat inap saya diuap untuk membantu mengeluarkan dahak) dan ternyata saya kena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas). Sebenarnya nggak terlalu penting saya menceritakan penyakit saya apa, yang terpenting adalah bagaimana kejadian dan musibah ini mengubah kami as a family.

Suami saya juga dalam keadaan sakit waktu itu (Demam dan Flu). Andra, anak saya diasuh oleh mertua saya. Untungnya, Andra memang dekat dengan eyangnya. Jadi nggak terlalu rewel saya tinggal (menurut mertua saya demikian, selama saya tinggalkan Andra sama sekali tidak menyusahkan). Saya meninggalkan Andra saat itu dengan tergesa-gesa karena saya sudah nggak tahan sekali dengan kondisi fisik saya, terakhir sebelum masuk RS saya bilang padanya "Andra, Bunda ke Rumah Sakit dulu ya!Bunda nggak tahan nih, sakit sekali. Doain Bunda cepat sembuh ya!Nanti kita main lagi!" lalu Andra mengangguk dan bilang "Iya, Bunda!".

Ketika itu suami saya sedang dalam perjalanan pulang dari dinasnya di luar kota. Ia langsung menyusul ke rumah sakit, membantu mengurus admininstrasi dsb. Keesokan harinya pun walau Ia juga dalam keadaan demam dan tidak fit, Ia mengunjungi saya di RS dan menunggui saya.  Saya sempat menanyakan kabar Andra padanya, katanya "Anaknya pintar koq, nggak rewel, beberapa kali nanyain kamu sih!Tapi koq aku dicuekin ya?" Begitu kata suami saya. Ketika saya tanyakan lagi maksudnya dicuekin seperti apa, suami saya menjelaskan bahwa sepertinya Andra memendam rasa sedih karena saya nggak ada dan ini kali pertamanya saya tinggal dan dengan terpaksa disapih, jadi Ia seperti lebih memilih sama eyangnya karena sepertinya kalau Ia menghabiskan waktu sama papanya langsung sedih karena ingat saya, itu sih feeling bapaknya ya, apapun itu, dalam hati paling tidak saya bersyukur sekali bagaimanapun Andra tidak rewel.

Yang namanya Ibu lagi sakit, pisah sama anaknya, pasti kepikiran, saya mellow total. Nangis sesenggukan karena kangen tapi ini saya jadikan motivasi supaya saya kuat dan semangat untuk sembuh dan bisa segera pulang. Selama beberapa hari di RS, suami saya bolak balik datang untuk menunggui. Hari Minggu akhirnya saya lebih kuat dan diperbolehkan untuk pulang. Suami saya menjemput dan kita bergegas pulang dan bertemu Andra.

Sesampainya di rumah, Andra sedang dimandikan eyangnya. Saya menyapanya dan dia cuek aja sampai akhirnya mau saya gendong dan ngobrol untuk cerita bahwa saya senang sekali ketemu dia lagi. Saya lihat wajahnya, Ia seperti menahan kesedihannya. Malam itu akhirnya saya bawa Andra pulang setelah sebelumnya menginap di rumah eyangnya. Karena Ia memang sedang dalam proses disapih jadi tidur malamnya memang cukup jadi tantangan. Tapi malam itu berbeda.

Ketika akhirnya saya berhasil menidurkan Andra pukul 23.00 saya pun tidur. Jam 2 pagi, Andra terbangun dan mengamuk. Mengamuk sejadi-jadinya. Teriak-teriak dengan penuh marah dan kami (saya dan suami) tidak mengerti sebabnya kenapa. Sepertinya belum pernah saya lihat Ia semarah ini. Ia memukul-mukul saya dan papanya berkali-kali untuk meluapkan emosinya. Tatapannya berbeda, penuh kemarahan. Saya sedih dan hancur sekali melihatnya. Saya akhirnya juga ikutan emosi sambil terus ajak Andra berkomunikasi, apa yang Ia rasa?Kenapa marah-marah? Tapi alih-alih membuat Andra tenang dan saya pun dalam kondisi tidak sabar dan sumbu pendek karena sakit dan lelah, kondisi Andra semakin marah. Ia sampai lompat-lompat untuk meluapkan kemarahannya dan sama sekali tidak mau dipegang, dielus atau dipeluk.

Saya masih juga clueless dan kesal sekali dengan sikapnya. Saya kesal sekali Ia marah tanpa bisa saya mengerti sebabnya kenapa. Suami saya sedih sekali melihat anak kesayangannya seperti ini. Andra memang pernah tantrum tapi nggak pernah separah ini.

Saya istighfar, minum, tarik nafas panjang. Saya bawa Andra keluar kamar, saya gendong, peluk dan tanyakan lagi "Andra kenapa?Andra marah?Marah sama Bunda?Atau sama Papa?Ayo bilang sama Bunda, Nak!"Saya sudah menahan tangis saya saat itu.

Pelan-pelan nafasnya mulai teratur, kemudian keluarkah kata-kata itu. Kata-kata yang bikin saya dan suami menangis sejadi-jadinya. Kata-kata yang keluar dari bibir mungil anak perempuan berusia 2 tahun 3 bulan.

"Kemarin Bunda dan Papa ninggalin Andra!"

Enam rangkaian kata yang diucapkan dengan singkat, padat dan jelas oleh anak saya. Kami nggak pernah tau bahwa Andra merasa kami tidak menjelaskan kondisi yang terjadi ke dia. Saat itu saya pamit tidak untuk menginap, saya seperti membohongi akan pergi sebentar dan segera kembali lagi, padahal saya pergi meninggalkan Andra tiga hari lamanya. Tiga hari yang mungkin buat dia rasanya seabad pun saat itu Ia terpaksa disapih walau mungkin belum siap (dan ternyata setelah kepulangan saya, dia merasa sudah ikhlas disapih dan tidak mau lagi minum ASI).

Tangis kami semua pecah malam itu. Akhirnya kami bertiga berpelukan. Saling minta maaf dan menangis bersama. Saya nggak pernah membayangkan akan mengalami ini, tapi kejadian ini membuat kami belajar. Berkomunikasi itu penting, berkomunikasi dalam menciptakan solusi. Berkomunikasi untuk mengatasi masalah dan meluapkan emosi dan perasaan bahkan kepada anak kecil berusia dua tahun yang sering saya lupa bahwa Ia juga punya hak bersuara, punya hak untuk diajak berkomunikasi dan bahwa Ia bisa mengerti jika kita berusaha menjelaskan. 

Sampai saat saya menulis cerita ini, sesekali Andra masih beberapa kali marah, entah memang ini sedang masanya tantrum atau apa yang Ia alami kemarin membekas sekali di hatinya. Saya merasa bersalah sekali karena kemarahannya ini seringkali hanya Ia tujukan ke saya, bukan ke orang lain. InsyaAllah saya sabar. InsyaAllah saya akan terus memperbaiki hubungan ini dan membuat Andra percaya lagi sama Bundanya. Ini pelajaran besar bagi saya, terutama karena saya mengetahui anak saya yang cukup keras kepala. Andra si anak berkemauan keras. Andra yang selalu tahu maunya apa dan sulit sekali dibujuk untuk mengubah keinginannya. Andra yang lebih menghargai diberikan pilihan daripada dipaksa melakukan ini dan itu. Betapa sayangnya saya sama Andra.

Saya cerita ini untuk sekedar berbagi, betapa pentingnya berkomunikasi dengan anak. Jangan pernah kesampingkan perasaan anak sekecil apapun usianya, ia tetaplah manusia yang berhak diajak bicara, dipertimbangkan usulan dan pendapatnya, ditanyakan apa maunya dan diberikan respon atas perasaannya. Selalu ajak bicara anak ketika kita, orangtuanya, ingin melakukan keputusan apapun yang terkait dengannya. Ini membuat anak merasa dihargai dan membuat Ia belajar bahwa Ia bisa berpendapat, Ia bisa memilih dan Ia harus bertanggungjawab atas pilihannya. 

Terima kasih ya Nak, terima kasih sudah mengingatkan Bunda dan Papa, terima kasih sudah jadi anak yang mandiri, kuat, tangguh serta sabar. Semoga kita semakin cinta satu sama lain, semakin pintar dan saling mendoakan serta mengusahakan yang terbaik setiap harinya. We love you Nayandra Kanya Anindya yang sekarang sudah bukan bayi kecil karena sudah lulus ASI Eksklusif dengan ikhlas dan mantap. Semoga Allah SWT selalu meringankan langkahmu menjadi anak solehah yang membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi orang banyak, Aamin Ya Robbal Alamin.






Terima Kasih 2016!

Hai, Assalamualaikum! Akhirnya saya menulis lagi di blog ini dan sempat mengganti layoutnya supaya lebih enak dilihat. Semoga kalian yang ra...

Hai, Assalamualaikum! Akhirnya saya menulis lagi di blog ini dan sempat mengganti layoutnya supaya lebih enak dilihat. Semoga kalian yang rajin mampir ke sini menyukainya seperti halnya saya ya.

Tahun 2016 boleh jadi merupakan tahun yang penuh tantangan buat saya. Tantangan dalam hal kehidupan, pelajaran, kekuatan, kesabaran dan sarat hikmah yang saya terima. Banyak kebahagiaan dan kesedihan yang saya alami di tahun ini yang saya percaya semuanya terjadi dengan sebuah alasan. Agar saya jadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Berikut saya rangkum beberapa hal yang berkesan buat saya di tahun 2016. 

Bertepatan dengan ulang tahun Ibu saya, saya dan keluarga berlibur ke Pulau Macan di bulan Februari 2016, cerita lengkapnya bisa dibaca di sini.

Di bulan Ramadhan yang jatuh bulan Juni 2016, saya memutuskan untuk mengisi waktu dengan mengikuti kursus intensif montessori yang diselenggarakan oleh Sunshine Teachers Training sebuah lembaga pendidikan pengajaran montessori untuk anak prasekolah atau berusia 0-6 tahun. Tujuan utamanya adalah karena saya ingin terjun langsung mengajari anak saya di rumah dan saya tidak punya latar belakang apapun tentang ini. Cerita mengenai serunya kelas yang saya ambil ini belum sempat saya update di blog dan dikarenakan saya ternyata sangat tertarik sekali pada bidang yang baru ini, setelah selesai masa kursus intensif, saya langsung melanjutkan untuk mengambil diploma montessori di lembaga yang sama, well, here I am. Saya kuliah lagi.


Bersama seluruh peserta kursus intensif montessori yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia.


Di bulan yang sama, Juni 2016, secara tidak sengaja, saya melihat lowongan di www.productivemamas.com yang kebetulan mencari event manager untuk membantu Nesya dan Irna, content writer dari blog tersebut dalam menyelenggarakan event playdate untuk anak-anak. Kebetulan, karena memang saya lagi hobi banget bikin playdate bersama teman-teman, saya iseng apply dan ternyata berjodoh diterima. Maka sejak Juli 2016, saya bergabung dengan #teamproductivemamas dan hingga saat ini sudah menyelenggarakan beberapa event playdate seperti Merah Putih Playdate, Amazing Race Playdate, Rainbow Playdate dan masih akan banyak lagi event playdate ke depannya serta beberapa project menarik yang akan saya jalani nantinya. Can't wait!
Captured by @anisasirman for Productive Mamas

Pic Courtesy of www.productivemamas.com (Productive Mamas Team: Dyah Ayu, Irna, Nesya, Ajeng, Mala)

Oktober 2016 merupakan bulan yang spesial karena di bulan ini, anak kunyil kesayangan berusia 2 tahun dan di bulan ini juga saya dan ipar saya akhirnya sepakat membuka LITUKANYA PROJECT yaitu sebuah usaha yang bergerak di bidang event organizer, graphic design & decoration. Pesta ulang tahun Dayu dan Andra menjadi project pertama kami di tahun ini. Jangan lupa follow instagram @litukanyaproject ya!


Sebelum tahun baru menjelang, di bulan Desember 2016, saya mendapatkan kabar yang sangat membuat saya dalam kedukaan teramat dalam. Saya kehilangan teman, sahabat, kakak, guru, mentor kesayangan, Irzam R Dastrianyah atau yang biasa saya panggil dengan sebutan Iyank, yang telah saya kenal sejak tahun 2000 dan telah banyak berjasa dalam kehidupan saya. Entah bagaimana mengekspresikan rasa kehilangan ini, yang jelas saya sempat shock dan down selama beberapa hari.

Regina, saya, Sidi, Mas Avin. Empat dari sekian banyak sahabat Iyank di Infinito Singers

Akhirnya, Selamat datang 2017! Semoga tahun ini menjadi tahun yang banyak keberkahan bagi semua orang yang saya sayang. Resolusi saya hanya dua yaitu ingin lebih sehat dan lebih bermanfaat buat banyak orang. 

Selamat Tahun Baru!





TRIP TO PULAU MACAN

Februari yang lalu, saya dan keluarga berkesempatan untuk liburan ke Pulau Macan di Kepulauan Seribu. Liburan ini terlaksana dalam rangka m...

Februari yang lalu, saya dan keluarga berkesempatan untuk liburan ke Pulau Macan di Kepulauan Seribu. Liburan ini terlaksana dalam rangka merayakan ulang tahun ibu saya yang jatuh pada tanggal 25 Februari.

Kenapa Pulau Macan?Karena ini cita-cita ibu saya yang belum kesampaian. Ibu saya memang fans berat pantai dan laut. Terlebih kerena beliau punya asma yang seringkali mengganggu aktivitasnya, jalan-jalan ke Pulau Macan ini jadi salah satu ikhtiar untuk sembuh. Konon menghirup udara laut sangat baik bagi pengidap asma.

Seperti biasa, saya dipercaya jadi orang yang mengatur rencana liburan. Setelah browsing dan cari tahu sana-sini, saya mendapatkan informasi untuk paket liburan ke Pulau Macan dari Pulau Macan/Tiger Island Eco Village and Resort. Setau saya memang hanya satu resort di Pulau Macan. Bisa lihat juga websitenya di sini 

Pertama kali melihat harga tripnya saja saya cukup takjub karena menurut saya cukup mahal untuk hitungan wisata lokal, tapi karena ini adalah wishlistnya ibu saya, jadi kami tetap berangkat, hihi.

Rombongan trip kami kali ini berisi tujuh orang. Saya, suami, anak saya yang masih setahun umurnya, adik dan adik ipar saya, Ibu saya dan satu orang temannya. Kami menyewa satu villa yaitu Tropical Bamboo (Ini saya pilih karena cukup memadai untuk 7 orang dalam satu kamar). Fasilitas kamar Non AC, No TV, Mineral Water, Fan, Kamar mandi di luar, Kelambu (Mosquito Net). Jadi bisa dipastikan ya, ini benar-benar trip untuk menikmati pantai dan kembali ke alam judulnya. Karena segala sesuatunya dibuat sealami mungkin di sini.

Kami memilih kamar tipe tropical bamboo yang cukup besar untuk seluruh rombongan dan merupakan bangunan tertutup, karena saya membawa anak saya yang masih satu tahun. Menurut beberapa review yang saya baca, yang paling oke adalah pilihan kamar sunset hut dan di kamar ini kita bisa langsung melihat sunset, tapi ya dinding pemisahnya nggak ada, hanya tertutup tirai dan saya masih butuh privasi karena harus menyusui, jadi udah pasti nggak mungkin, hahaha.

Harga tripnya untuk dua hari satu malam adalah Rp 1,723,500,-/orang dan untuk bayi dibawah umur 3 tahun free of charge namun akan dikenakan biaya kapal sebesar Rp 400,000,-

Harga tersebut sudah termasuk:
- Pajak dan service
- Kapal dari Marina Ancol - Pulau Macan (PP)
- Makan (Welcome snack, Sarapan, Makan siang, Snack sore, Makan malam)
- Minum (Susu & juice jam 08.00-12.00; Kopi, teh, jahe, air aqua jam 08.00-20.00)
- Akomodasi selama dua hari satu malam (kami memilih villa tropical bamboo)
- Snorkeling Trip (tergantung cuaca)
- Bebas menggunakan fasilitas di pulau seperti peralatan snorkeling, kayak, meja billiard dll. 

Pihak penyedia trip pulau Macan ini juga menyediakan paket diving dengan harga Rp 550.000/dive/orang (sudah punya sertifikat) dan Rp 660.000/dive/orang (belum punya sertifikat) dengan durasi 45 menit.

Kapal menuju Pulau Macan berangkat dari Marina Ancol dermaga 17 atau Pantai Mutiara (Jetski Cafe) jam 08:00 pagi, kembali dari pulau jam 2-3 sore dan lama perjalanan di kapal sekitar 2 jam. 

Perjalanan naik kapal ini cukup menantang, apalagi saat itu masih musim hujan, ombaknya luar biasa, tapi ajaibnya, anak saya selalu tidur baik berangkat ataupun pulang, jadi no cranky at all. Kamipun semua sudah siap menenggak antimo kalau-kalau mabuk laut hahaha.

Itinerarynya ngapain aja sih?Berikut saya share:

Ada beberapa tips buat kalian yang mau mencoba trip ke Pulau Macan ini.
  • Lotion anti nyamuk IT’S A MUST!atau bisa juga berbentuk spray yang aman untuk bayi dan anak-anak. Waspada DBD sih judulnya, karena ini tempatnya dibuat dengan menjaga kealamian lokasinya.
  • Bawa baju yang gampang kering karena inti dari trip ini adalah menikmati pantai dan ngga mungkin kalau nggak basah-basahan
  • No need bawa snack karena menurut saya, apa yang sudah disediakan di villa cukup memadai untuk bikin kenyang kecuali kalau memang tukang ngemil, boleh banget bawa ransum tambahan hahahaha
  • JAGA KEBERSIHAN! Sengaja pakai capslock dan bold. Jadilah wisatawan yang pintar dan sayang alam semesta. Pulau ini diusahakan sekali kealamiannya, jangan rusak keindahannya
  • Sunblock jangan lupa ya!
  • Jangan simpan makanan di dalam kamar, kecuali terbungkus rapi, karena kalau nggak, kalian akan kedatangan tamu sekelompok semut dan keluarga besarnya.
  • Bawa obat-obatan, terutama obat anti mabuk laut, karena kalau cuaca lagi nggak bagus, perjalanan laut cukup menegangkan.
  • Bawa senter. Kenapa?Karena pilihan kamar kami dengan kamar mandi diluar, walaupun ada lampu, senter juga dibutuhkan untuk jaga-jaga. Apalagi kalau malam-malam ingin ke kamar mandi.

Pengunjung Pulau Macan, menurut penyedia tripnya kebanyakan adalah turis mancanegara, jadi nggak usah heran lihat banyak mbak dan mas bule disini ya! Dan soal makanan yang disediakan, chefnya di sini adalah seorang ibu-ibu jago masak dengan menu tradisional rumahan dan modifikasi menu internasional yang buat saya cukup oke dan variatif.

Dikarenakan Pulau Macan hanya bisa menerima maksimal tamu sejumlah 35 orang, jadi untuk reservasi sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari ya. Semoga postingan ini membantu untuk yang butuh informasi ke Pulau Macan.























  

Semangat Menyusui Kapan Saja dan di Mana Saja

Terkait Pekan Menyusui Sedunia yang jatuh di tanggal 1-7 Agustus 2016, saya mau berbagi soal ASI dan menyusui. Satu hal yang mendasari say...

Terkait Pekan Menyusui Sedunia yang jatuh di tanggal 1-7 Agustus 2016, saya mau berbagi soal ASI dan menyusui.

Satu hal yang mendasari saya memilih memberikan ASI kepada anak saya adalah karena saya sendiri juga anak ASI selama 2,5 tahun lamanya. Saya percaya sekali kedekatan yang saya punya dengan ibu saya, diawali dari proses menyusui yang sangat indah.


Buat saya, menyusui bukan soal bisa dan nggak bisa, tapi lebih kepada mau atau nggak mau. Seberapa besar niat, tekad dan ikhtiar yang Ibu punya untuk tetap keukeuh menyusui anaknya. Ada pepatah yang bilang "Breastfeeding is 90% determination and 10% milk production" dan pepatah ini benar adanya. Banyaknya ASI atau lamanya proses menyusui bukan lagi soal ukuran payudara dan seberapa banyaknya ASI yang keluar dari payudara, tapi ini semua soal MINDSET. Ingatlah selalu bahwa ASI menyesuaikan dengan kebutuhan anak baik dari segi kandungan di dalam air susunya maupun soal berapa ml air susu yang dihasilkan.

Selain mindset, hal lain yang dibutuhkan untuk bisa menyusui hingga minimal 2 tahun lamanya adalah PENGETAHUAN. Banyak sekali teman-teman saya yang pintar-pintar tapi tak acuh soal proses menyusui dan bahwa menyusui itu penting sekali untuk anaknya. Yang saya maksud dengan pengetahuan adalah juga termasuk pada kekuatan tekad mencari tahu soal bagaimana sih menyusui itu dari pemilihan rumah sakit yang pro-ASI dan obgyn serta dokter anak yang juga membantu kita untuk bisa menyusui dengan baik. Ini pengalaman sih, betapa sedihnya saya mengetahui seorang sahabat saya yang memilih melahirkan di sebuah RS yang ternyata nggak pro-ASI dan di hari pertama anaknya lahir sudah diberi susu formula karena katanya "ASI-nya nggak keluar, bu!" dan kolostrum ASI yang justru dibutuhkan di hari-hari pertama si bayi lahir terbuang percuma, padahal bayi itu ukuran lambungnya masih kecil sekali, jadi nggak perlu juga dia minum banyak-banyak (bayangin deh kalau hari pertama setelah lahir sudah diberi sufor) dan ilmu ini juga saya tau karena saya belajar dan mau tau.

Sumber: Facebook mba Fatimah Berliana Monika, pengarang Buku Pintar ASI dan Menyusui
Saya sendiri termasuk yang usaha banget belajar soal menyusui. Selain banyak baca buku, baca dan mengikuti forum La Leche League International via website dan facebooknya, mengikuti newsfeed-nya Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) hingga ikutan tiga kelasnya yaitu pre-natal, post-natal dan tantangan dalam menyusui berdua sama suami. Kenapa suami harus turut serta?Karena suami adalah orang pertama yang memungkinkan kesuksesan proses menyusui ibu dan anak, baca deh tuh bukunya Ayah ASI atau klik di sini

Saya mungkin hanyalah remah rempeyek dalam hal perjuangan kasih ASI ke anak saya, karena dari anak saya berusia 0-21 bulan belum ada tantangan berarti selain payudara yang lecet di awal proses menyusui (ini mah wajar ya, semua ibu menyusui pasti mengalami) lain daripada itu karena sayanya yang cukup keukeuh dan berusaha untuk membahagiakan diri sendiri supaya produksi ASInya cukup (lagi-lagi soal mindset) jadi ya Alhamdulillah sampai saat ini ASInya cukup-cukup saja. Saya juga memilih jadi stay at home parent setelah anak saya lahir, jadi drama ASIP tidak sampai terjadi di saya, but trust me, saya punya banyak teman ibu pekerja yang hebat-hebat soal ini. Jaman sekarang apa sih yang nggak bisa asalkan niat dan punya tekad yang kuat?Jasa kurir ASI juga sudah ada, jasa sewa freezer pun banyak dan senengnya di Mall dan kantor-kantor sudah banyak ruang menyusui yang oke dan fasilitasnya cukup baik, coba deh bandingin sama jaman ibu-ibu kita dulu?Lebih berat pastinya.

Soal perjuangan menyusui, saya banyak mendapatkan suntikan semangat dan tentunya pengetahuan dari apa yang ditulis mba Fatimah Berliana Monika di sini dan juga dari buku-buku ini, monggo deh dibeli buat kamu para ibu menyusui atau calon ibu menyusui.
Ada 22 kisah inspiratif ibu-ibu menyusui yang luar biasa, lewat buku ini saya tau bahwa menyusui itu bisa diusahakan bagaimanapun caranya asal diikuti niat dan tekad yang kuat

Sesuai judulnya, buku ini mengupas segala hal soal ASI dan menyusui

Nah ini juga wajib dibaca terutama buat para AYAH ASI
Sejuta manfaat ASI bagi ibu dan bayi, silakan baca buku pintar ASI dan menyusui atau googling aja banyak banget manfaatnya salah satunya di sini, tapi buat saya satu dari sejuta yang paling penting adalah eng ing eng...

Kapasitas makan saya setelah jadi ibu menyusui itu luar biasa banyaknya, bisa tanyakan ke keluarga saya deh kalau nggak percaya, tapi ya badannya segini-gini aja. Kelar urusan melahirkan dan lanjut proses menyusui bikin saya nggak punya waktu lama untuk overweight dan cepat kembali ke berat badan ideal. Kan seneng ya kalau bisa pakai baju-baju lama (dalam rangka penghematan juga sih hahaha). Tapi cerita ini mungkin berbeda dari ibu-ibu menyusui lainnya karena pada dasarnya saya memang sulit gemuk karena pecicilan hihihi.

Thanks ibu Amy *macam kenal aja*
Saya menghargai apapun pilihan orang lain, semoga cerita saya ini paling nggak membuat orang tergerak untuk cari tau lebih lengkap mengenai proses menyusui dan ASI. Sekali lagi ini bukan soal produksi susunya tapi determinasi, kekuatan niat, tekad dan ikhtiar yang didasarkan atas memberikan yang terbaik untuk buah hati kita. Please share di comment kalau kamu punya cerita menarik soal menyusui yang bisa bikin saya semangat menikmati menyusui anak saya yang minimal hanya tinggal 3 bulan lagi. Mari semangat menyusui kapan saja dan di mana saja!

Bali, 2016 
Pulau Macan, 2016

Tentang Kelas Bayi Bermain, Rumah Dandelion

Jadi ibu-ibu beranak (baru) satu yang sebelumnya tidak punya pengalaman jadi ibu, tidak punya role model keluarga inti yang bisa ditanya-t...

Jadi ibu-ibu beranak (baru) satu yang sebelumnya tidak punya pengalaman jadi ibu, tidak punya role model keluarga inti yang bisa ditanya-tanya (karena saya dan suami sama-sama anak pertama) dan tidak punya latar belakang pendidikan terkait pengasuhan anak atau apapun yang dibutuhkan terkait ini, membuat saya selalu haus informasi dan "kepo" mengenai apapun terkait perkembangan anak. Baca sana-sini, googling sana-sini dan sesekali tanya ke mertua dan ibu sendiri mengenai gimana dulu beliau mendidik dan membesarkan saya dan suami menjadi salah satu solusi pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya soal menjadi orangtua. 

Akan tetapi, perkembangan jaman yang berbeda antara masa saya punya anak dan masa ibu saya punya anak kadang masih belum bisa memuaskan saya atas segala pertanyaan-pertanyaan yang hadir di otak saya. Makanya, sebagai 'Ratu Kepo' yang hobi browsing via internet (Alhamdulillah nggak fakir wifi dan paket internet di rumah sungguh mumpuni sehingga bisa memenuhi kebutuhan saya yang kepo ini hahaha), saya seperti berjodoh menemukan Rumah Dandelion, sebuah lembaga yang memfokuskan diri pada pendidikan orang tua dan anak, perkembangan anak usia dini dan memposisikan diri sebagai rekan orangtua dalam mengoptimalkan perkembangan anak.

Adalah sebuah kebetulan juga ketika saya mengetahui bahwa salah satu founder Rumah Dandelion ini yaitu Binky Paramitha merupakan adik kelas saya di SMUN 70 dulu. Langsung deh saya kontak Binky untuk tanya-tanya dan kemudian daftar. Waktu itu usia neng Andra, anak saya masih 10 bulan, kelas bayi bermain dimulai bulan Agustus 2015 dan Andra masuk kategori kelas Kepompong (untuk bayi usia 6-12 bulan).

Kenapa saya tertarik ikutan kelas bayi bermain ini?Apa nggak kecepetan bayi usia 10 bulan diikutkan kelas? Berikut saya kutip penjelasan dan alasan Rumah Dandelion mengadakan kelas ini:

Mengapa Rumah Dandelion mengadakan kelas ini?
Lima tahun pertama adalah “golden age” bagi perkembangan anak. Hasil  penelitian dari Council for Early Child Development menunjukkan bahwa 90% perkembangan otak berlangsung pada 5 tahun pertama, dan 50% nya terjadi di 3 tahun pertama. Lingkungan positif dan stimulasi menjadi sangat penting, karena pengalaman ini akan punya pengaruh yang besar. Experience is the architect of the brain.

Mengapa orang tua dan bayi perlu kelas ini?
  1. Bayi mendapat stimulasi yang sesuai usia dengan cara yang menyenangkan
  2. Orangtua mendapat pengalaman langsung mengenai cara stimulasi yang dapat diaplikasikan di rumah
  3. Orangtua dan bayi dapat menguatkan attachment yang terjalin
Berdasarkan penjelasan di atas dan pengalaman saya serta neng Andra ikutan kelas ini adalah it was fun! bukan cuma buat anaknya ya, tapi juga ibunya. Keikutsertaan kami di kelas ini dan terutama untuk neng Andra bukan soal belajar bersosialisasi, karena dari apa yang saya pelajari, untuk anak seusia segini juga belum perlu belajar bersosialisasi, nanti akan ada masanya tapi tidak di usia 6-12 bulan. Yang justru lebih penting adalah soal pengalaman dan stimulasi yang diberikan oleh tim Rumah Dandelion dalam berbagai kegiatan yang ibu dan anak lakukan di kelas bayi bermain. 

Sebelum mengikuti kelas ini juga ada asesmen psikologis atau skrining yang diberikan oleh tim Rumah Dandelion untuk mengetahui bagaimana perkembangan anak, apakah sudah sesuai dengan usianya?masih kurang diberikan stimulasi, berada pada tingkat yang harus diwaspadai orang tuanya atau sudah dalam keadaan yang baik. Sehingga nantinya orang tua mengetahui kondisi perkembangan anaknya dan apa saja yang jadi PR dan perlu ditingkatkan lagi lewat bermain sama anak dan kegiatan-kegiatan dalam kelas bayi bermain ini. 

Dalam setiap kegiatan yang dilakukan (dalam satu hari di kelas bayi bermain, biasanya kita melaksanakan maksimal tiga kegiatan berbeda dengan fokus perkembangan dan stimulasi pada anak yang berbeda juga) para kakak guru eh tante guru deh ya sebutnya, menginformasikan terlebih dahulu, kegiatan ini fungsinya untuk apa dan merupakan cara stimulasi aspek perkembangan apa. Kegiatan-kegiatan stimulasi yang dilakukan bersifat tematik dengan variasi kegiatan untuk mengembangkan aspek sensori-motor, sosial emosional, kemandirian, bahasa dan kognitif. 

Selama mengikuti kelas bayi bermain ini, saya banyak sekali mendapatkan insight yang positif, inspirasi untuk bermain sama neng Andra di rumah dan tentunya pengalaman yang tidak terlupakan dari bermain sama anak yang saya dan neng Andra lakukan. Saking senangnya ikutan kelas bayi bermain ini dan saya juga melihat bagaimana perkembangan Andra setelah ikutan dan tentunya melakukan repetisi dengan bermain sama anak di rumah, saya akhirnya ikutan lagi di term berikutnya dengan mengajak keponakan saya, Dayu yang hanya berbeda 1,5 bulan dari usia neng Andra untuk turut serta. 

Sukses terus ya Rumah Dandelion!Semoga next time ada kesempatan lagi buat neng Andra main bareng dan ibunya belajar dari tante-tante guru yang kece-kece dan inspiratif. Berikut adalah foto-foto serunya saya dan neng Andra ikutan kelas bayi bermain. Buat ibu-ibu yang tertarik ikutan atau pengen tanya-tanya soal kegiatan Rumah Dandelion, bisa kunjungi websitenya di sini

Selamat bermain sama anak!




























We are happy! Thanks Rumah Dandelion