Pindah ke Jerman?Kok Bisa?


Assalamualaikum, 

Sekian lama nggak pernah upload tulisan apapun di blog, saatnya kembali menulis untuk menuangkan rasa dan berbagi pengalaman yang semoga bisa diambil manfaatnya kelak ya, hehe.

Kali ini yang mau jadi bahan tulisan adalah mengenai kepindahan kami sekeluarga ke Aachen, Jerman. Sesungguhnya beberapa teman bertanya kok bisa tiba-tiba pindah ke Jerman? gimana ceritanya? Nah, kali ini aku ceritakan melalui tulisan di blog ini ya, sebenarnya sempat cerita sedikit di Instagram tapi kalau cerita lengkapnya dibagikan via caption di Instagram akan panjaaaaaang dan lamaaaaa seperti iklan choki-choki yang lawas itu (kalau ada yang paham berarti kita seumuran!).

Cerita kepindahan kami berawal dari keinginan bapak suami yang ingin mencoba rutinitas baru dari hanya sekedar rumah-kantor-rumah, tiba-tiba beliau mendapatkan hidayah untuk sekolah lagi, menuntut ilmu dan menunaikan janjinya kepada diri sendiri dan orang tua untuk bisa lulus S2, maklum sebelumnya pak suami ini sempat melanjutkan studi S2-nya di UI tapi karena kesibukan pekerjaannya yang harus sering dinas luar kota, tidak terselesaikan (padahal udah tinggal nyusun thesis, istrinya super gemas!).

Kala itu Januari 2019, setelah meyakinkan diri ingin sekolah lagi, pak suami gencar mencari informasi beasiswa sana-sini, karena kali ini, tujuan sekolahnya bukan di dalam negeri tetapi ingin berkelana menimba ilmu di luar negeri sekaligus mengajak keluarganya berpetualang pergi merantau jauh dari Indonesia (karena ini salah satu cita-cita istrinya yang belum kesampaian).

Beberapa lembaga yang membuka beasiswa beliau coba, semua dipersiapkan, dari mulai tes IELTS, bikin proposal, CV, surat rekomendasi dari kantor dan kebutuhan lainnya. Dari sekian banyak lembaga yang menerima beasiswa, ada yang lolos ke tahap wawancara, ada juga yang tidak, gagalnya bukan sekali tapi berkali-kali, salah satunya adalah LPDP, padahal ini salah satu lembaga yang jadi incaran beliau untuk mendapatkan beasiswa, akhirnya setelah kegagalan pertama kali, sesi penerimaan berikutnya beliau coba lagi dan di akhir tahun 2019, kabar gembira itu datang. Di usia maksimal mendapatkan beasiswa dari LPDP (saat itu usia pak suami sudah 35 tahun), beliau menjadi salah satu penerima beasiswa. 

Moral of the story, usia bukan halangan untuk mencoba sesuatu, terbukti ternyata rezekinya pak suami untuk sekolah lagi justru di usia maksimal dia bisa mendapatkan beasiswa LPDP.

Rasanya campur aduk, tapi proses persiapan kuliah di luar negeri ini masih banyak sekali, karena kalau di LPDP, si penerima beasiswa yang memilih sendiri mau kuliah di mana dan jurusan apa asal ada dalam kategori universitas yang bekerjasama dengan LPDP. Singkat cerita, pak suami memilih Jerman sebagai destinasi tempat Ia melanjutkan studinya. Lalu apakah semudah itu diterima di universitas dan jurusan yang dipilih?Ternyata tidak.

Dari tiga alternatif pilihan jurusan dan universitas, satunya gagal karena ternyata saat itu jurusan yang beliau pilih di salah satu universitas tidak membuka mahasiswa baru, yang dua pilihan lainnya gagal karena dinilai dari segi keilmuan jauh berbeda dengan jurusan S1 ketika di Indonesia, akhirnya pak suami mengurus untuk pindah universitas dan dengan izin Allah diterima di RWTH Aachen.

Sebelum cerita berlanjut, ada cerita menarik soal RWTH Aachen ini, jauh sebelum beliau memilih universitas ini, aku sudah mengetahui kampus ini karena RWTH Aachen adalah universitas tempat idolaku sedari kecil yaitu B.J Habibie bersekolah di Jerman, yang mana bapak suami ternyata nggak tau soal ini (agak kurang gaul memang dia atau memang kami kurang komunikasi ya hahahaha) dan dulu, aku sempat punya keinginan, pingin sekali deh bisa berkunjung ke Aachen setelah sebelumnya sempat lihat di film Habibie Ainun dan baca buku Rudy Habibie, salah satu buku favoritku hingga kini yang sempat aku review di sini

Jadi ketika mengetahui bahwa akhirnya pak suami diterima di RWTH Aachen, tentunya aku berkaca-kaca dan terharu sekali, kok bisa yaaaa?Ya bisa aja, Allah yang atur semua.


Bersambung…


Comments

Popular posts from this blog

[REVIEW] CLODI OH CLODI

Tentang Kelas Bayi Bermain, Rumah Dandelion

[FASHION] Hijab Style: Plain Outer