Awal tahun 2017, saya dan keluarga mendapatkan rejeki yang tidak ternilai harganya. Kami sekeluarga sakit. Batuk, flu, demam, pusing, you na...

Sebuah Tamparan di Awal Tahun

5:22:00 PM Unknown 2 Comments

Awal tahun 2017, saya dan keluarga mendapatkan rejeki yang tidak ternilai harganya. Kami sekeluarga sakit. Batuk, flu, demam, pusing, you name it. Terutama bagi keluarga kecil saya, di mana saya dan suami sakit secara bersamaan.

Awalnya, Andra anak saya belum ikut ketularan. Saya yang pertama kibar-kibar bendera putih hingga akhirnya menyerah untuk check in di rumah sakit dekat rumah.

Saya masuk rumah sakit di hari Kamis malam dengan perkiraan terkena demam berdarah, karena gejalanya mirip seperti DBD. Demam tinggi hingga 39,6 derajat celcius, pusing kepala, mual dan muntah-muntah, nyeri di seluruh badan hingga menggigil. Namun ternyata hasil cek darahnya negatif. Setelah dua hari menginap, saya akhirnya membaik, tapi ternyata batuk-batuknya masih menyisakan sesak (sejak awal rawat inap saya diuap untuk membantu mengeluarkan dahak) dan ternyata saya kena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas). Sebenarnya nggak terlalu penting saya menceritakan penyakit saya apa, yang terpenting adalah bagaimana kejadian dan musibah ini mengubah kami as a family.

Suami saya juga dalam keadaan sakit waktu itu (Demam dan Flu). Andra, anak saya diasuh oleh mertua saya. Untungnya, Andra memang dekat dengan eyangnya. Jadi nggak terlalu rewel saya tinggal (menurut mertua saya demikian, selama saya tinggalkan Andra sama sekali tidak menyusahkan). Saya meninggalkan Andra saat itu dengan tergesa-gesa karena saya sudah nggak tahan sekali dengan kondisi fisik saya, terakhir sebelum masuk RS saya bilang padanya "Andra, Bunda ke Rumah Sakit dulu ya!Bunda nggak tahan nih, sakit sekali. Doain Bunda cepat sembuh ya!Nanti kita main lagi!" lalu Andra mengangguk dan bilang "Iya, Bunda!".

Ketika itu suami saya sedang dalam perjalanan pulang dari dinasnya di luar kota. Ia langsung menyusul ke rumah sakit, membantu mengurus admininstrasi dsb. Keesokan harinya pun walau Ia juga dalam keadaan demam dan tidak fit, Ia mengunjungi saya di RS dan menunggui saya.  Saya sempat menanyakan kabar Andra padanya, katanya "Anaknya pintar koq, nggak rewel, beberapa kali nanyain kamu sih!Tapi koq aku dicuekin ya?" Begitu kata suami saya. Ketika saya tanyakan lagi maksudnya dicuekin seperti apa, suami saya menjelaskan bahwa sepertinya Andra memendam rasa sedih karena saya nggak ada dan ini kali pertamanya saya tinggal dan dengan terpaksa disapih, jadi Ia seperti lebih memilih sama eyangnya karena sepertinya kalau Ia menghabiskan waktu sama papanya langsung sedih karena ingat saya, itu sih feeling bapaknya ya, apapun itu, dalam hati paling tidak saya bersyukur sekali bagaimanapun Andra tidak rewel.

Yang namanya Ibu lagi sakit, pisah sama anaknya, pasti kepikiran, saya mellow total. Nangis sesenggukan karena kangen tapi ini saya jadikan motivasi supaya saya kuat dan semangat untuk sembuh dan bisa segera pulang. Selama beberapa hari di RS, suami saya bolak balik datang untuk menunggui. Hari Minggu akhirnya saya lebih kuat dan diperbolehkan untuk pulang. Suami saya menjemput dan kita bergegas pulang dan bertemu Andra.

Sesampainya di rumah, Andra sedang dimandikan eyangnya. Saya menyapanya dan dia cuek aja sampai akhirnya mau saya gendong dan ngobrol untuk cerita bahwa saya senang sekali ketemu dia lagi. Saya lihat wajahnya, Ia seperti menahan kesedihannya. Malam itu akhirnya saya bawa Andra pulang setelah sebelumnya menginap di rumah eyangnya. Karena Ia memang sedang dalam proses disapih jadi tidur malamnya memang cukup jadi tantangan. Tapi malam itu berbeda.

Ketika akhirnya saya berhasil menidurkan Andra pukul 23.00 saya pun tidur. Jam 2 pagi, Andra terbangun dan mengamuk. Mengamuk sejadi-jadinya. Teriak-teriak dengan penuh marah dan kami (saya dan suami) tidak mengerti sebabnya kenapa. Sepertinya belum pernah saya lihat Ia semarah ini. Ia memukul-mukul saya dan papanya berkali-kali untuk meluapkan emosinya. Tatapannya berbeda, penuh kemarahan. Saya sedih dan hancur sekali melihatnya. Saya akhirnya juga ikutan emosi sambil terus ajak Andra berkomunikasi, apa yang Ia rasa?Kenapa marah-marah? Tapi alih-alih membuat Andra tenang dan saya pun dalam kondisi tidak sabar dan sumbu pendek karena sakit dan lelah, kondisi Andra semakin marah. Ia sampai lompat-lompat untuk meluapkan kemarahannya dan sama sekali tidak mau dipegang, dielus atau dipeluk.

Saya masih juga clueless dan kesal sekali dengan sikapnya. Saya kesal sekali Ia marah tanpa bisa saya mengerti sebabnya kenapa. Suami saya sedih sekali melihat anak kesayangannya seperti ini. Andra memang pernah tantrum tapi nggak pernah separah ini.

Saya istighfar, minum, tarik nafas panjang. Saya bawa Andra keluar kamar, saya gendong, peluk dan tanyakan lagi "Andra kenapa?Andra marah?Marah sama Bunda?Atau sama Papa?Ayo bilang sama Bunda, Nak!"Saya sudah menahan tangis saya saat itu.

Pelan-pelan nafasnya mulai teratur, kemudian keluarkah kata-kata itu. Kata-kata yang bikin saya dan suami menangis sejadi-jadinya. Kata-kata yang keluar dari bibir mungil anak perempuan berusia 2 tahun 3 bulan.

"Kemarin Bunda dan Papa ninggalin Andra!"

Enam rangkaian kata yang diucapkan dengan singkat, padat dan jelas oleh anak saya. Kami nggak pernah tau bahwa Andra merasa kami tidak menjelaskan kondisi yang terjadi ke dia. Saat itu saya pamit tidak untuk menginap, saya seperti membohongi akan pergi sebentar dan segera kembali lagi, padahal saya pergi meninggalkan Andra tiga hari lamanya. Tiga hari yang mungkin buat dia rasanya seabad pun saat itu Ia terpaksa disapih walau mungkin belum siap (dan ternyata setelah kepulangan saya, dia merasa sudah ikhlas disapih dan tidak mau lagi minum ASI).

Tangis kami semua pecah malam itu. Akhirnya kami bertiga berpelukan. Saling minta maaf dan menangis bersama. Saya nggak pernah membayangkan akan mengalami ini, tapi kejadian ini membuat kami belajar. Berkomunikasi itu penting, berkomunikasi dalam menciptakan solusi. Berkomunikasi untuk mengatasi masalah dan meluapkan emosi dan perasaan bahkan kepada anak kecil berusia dua tahun yang sering saya lupa bahwa Ia juga punya hak bersuara, punya hak untuk diajak berkomunikasi dan bahwa Ia bisa mengerti jika kita berusaha menjelaskan. 

Sampai saat saya menulis cerita ini, sesekali Andra masih beberapa kali marah, entah memang ini sedang masanya tantrum atau apa yang Ia alami kemarin membekas sekali di hatinya. Saya merasa bersalah sekali karena kemarahannya ini seringkali hanya Ia tujukan ke saya, bukan ke orang lain. InsyaAllah saya sabar. InsyaAllah saya akan terus memperbaiki hubungan ini dan membuat Andra percaya lagi sama Bundanya. Ini pelajaran besar bagi saya, terutama karena saya mengetahui anak saya yang cukup keras kepala. Andra si anak berkemauan keras. Andra yang selalu tahu maunya apa dan sulit sekali dibujuk untuk mengubah keinginannya. Andra yang lebih menghargai diberikan pilihan daripada dipaksa melakukan ini dan itu. Betapa sayangnya saya sama Andra.

Saya cerita ini untuk sekedar berbagi, betapa pentingnya berkomunikasi dengan anak. Jangan pernah kesampingkan perasaan anak sekecil apapun usianya, ia tetaplah manusia yang berhak diajak bicara, dipertimbangkan usulan dan pendapatnya, ditanyakan apa maunya dan diberikan respon atas perasaannya. Selalu ajak bicara anak ketika kita, orangtuanya, ingin melakukan keputusan apapun yang terkait dengannya. Ini membuat anak merasa dihargai dan membuat Ia belajar bahwa Ia bisa berpendapat, Ia bisa memilih dan Ia harus bertanggungjawab atas pilihannya. 

Terima kasih ya Nak, terima kasih sudah mengingatkan Bunda dan Papa, terima kasih sudah jadi anak yang mandiri, kuat, tangguh serta sabar. Semoga kita semakin cinta satu sama lain, semakin pintar dan saling mendoakan serta mengusahakan yang terbaik setiap harinya. We love you Nayandra Kanya Anindya yang sekarang sudah bukan bayi kecil karena sudah lulus ASI Eksklusif dengan ikhlas dan mantap. Semoga Allah SWT selalu meringankan langkahmu menjadi anak solehah yang membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi orang banyak, Aamin Ya Robbal Alamin.





2 comments:

  1. Aamiinn, semoga jadi anak sholehah yang bermanfaat ya Andra sayang! Thank you for the reminder, Bunday! *virtual hugs*

    ReplyDelete